Sabtu, 25 Oktober 2008

Kartu ucapan yang bisa menghasilkan kebun bunga (PLANT-IT) yang indah


Apa yang anda lakukan bila mendapatkan kartu ucapan setelah membacanya? Pasti kebanyakan dibuang kecuali dari si dia, tentu saja disimpan kan.  

Bicara mengenai kartu ucapan yang dibuang, apakah bukan lebih baik ditanam saja dan menghasilkan kebun bunga yang indah?? Loh?
Inilah yang bisa anda lakukan bila membeli kartu ucapan PLANT-IT.

PLANT-IT adalah kartu ucapan yang dibuat dari campuran kertas dengan bibit tanaman bunga dengan proses tertentu yang memungkinkan bibit tanaman tersebut akan terus bertahan (tidak mati).

Bila anda sudah membaca pesan atau ucapan di kartu tersebut, jangan dibuang, taruh saja PLANT-IT di tanah maka dalam beberapa hari akan keluar pohon bunga kecil yang semakin lama semakin besar serta keluar bunga-bunga yang indah layaknya tanaman bunga pada umumnya.

Selain membuat taman semakin indah, pastinya juga turut dan peduli terhadap lingkungan.  
Apalagi kita semua sedang dihadapi dengan ancaman global warming.

Harga per buah kartu PLANT-IT sekitar Rp. 40.000,-

Sebuah tanaman Menulis Blognya sendiri...???


Ternyata ga cuma kita-kita, anak Polteq yang menulis berita-berita hingga mencurahkan perasaan kita ke blog saja.

Tetapi bagaimana kalau sebuah tanaman mencoba juga untuk membuat blog dan menulis semua apa yang dirasakannya setiap hari. Inilah yang dilakukan oleh sebuah tanaman yang diberi nama Midori dan diletakkan di Bowls Cafe, Kamakura, Jepang. 

Dengan menggunakan sensor yang ditempelkan di Midori dan disambungkan ke komputer, Midori akan menulis jurnalnya setiap hari melalui blog yang diberi nama Kyo no Midori-san ("Ms Midori Today").

Apa saja yang ditulis setiap hari oleh Midori?
Selain memberitahu tentang keadaan/ cuaca seperti suhu udara, tingkat persentase akan turun hujan, Midori juga menulis tentang dirinya seperti dia mendapatkan banyak cahaya/ sinar.

Sebenarnya agak sedikit membingungkan juga  karena dengan sensor yang ada, bukan hanya tanaman yang bisa membuat blog bahkan gelas atau karpet pun juga bisa deh.  


Rabu, 01 Oktober 2008

I, Robot Bartender


VIENNA, Austria -- As bartenders go, El Espanol Borracho tends toward the mercurial side. Get too close to his little flamethrower, and he's likely to set you on fire.

That's not the only risk at this week's Roboexotica Festival, which bills itself as the world's leading exploration of cocktail robotics. The milling crowd of hackers and techno-artists here hardly looks fight-prone, but Robomoji's saw-blade gears look wicked sharp, and the sledgehammer arm on the easy chair's built-in ice crusher could easily crack a misplaced skull.



What's happening here is not just art, not wholly technology, but an intoxicating mixture of the two that manages to comment on both while still pouring a (sometimes) decent drink. Kind of like that philosophy major who tends bar at your local watering hole.

"It's fun to be playful with technology and ideas, and not just listen to the call of money and practicality," said Jonathan Moore, a San Francisco programmer whose RFID-enabled External Combustion Engine is one of about a dozen bots pouring drinks at the festival. "Alcohol's brilliant, robots are brilliant and RFID is brilliant. Why not put them together?"

The liquid concoctions being poured probably won't win any bartending awards, but another type of mixology is on tap here: The advent of small, powerful batteries for cell phones and laptops, along with continued advances in microcircuitry, is revving up garage robotics.

"Anyone with access to an eBay account and a Home Depot can build a robot," said Simone Davalos, creator of El Espanol Borracho and head of security for San Francisco's decidedly more hazardous Survival Research Laboratories. "Robotics is all about improvising."

If the improvisation involves alcohol and fire, so much the better.

Roboexotica is the brainchild of a group of Viennese techno-artists called Shifz, which started the event in 1999 reasoning that if robots were ultimately supposed to interact with humans in everyday life, then turning them into bartenders was a natural step.

"I like to mix critical art and technology," said Christoph Veigl, festival co-founder and developer of some of the most sophisticated barbots, including the giant-eyeball-topped Alan, which wheels around offering guests popcorn and beverages. "There's an ironic aspect here, with machines that work irrationally, not so fast, and not so perfectly, in a social environment."

Seven years later, Shifz and its partners have won support from Viennese art organizations, found a home in a prestigious museum on the edge of the city's ornate old town, and drawn participants from around the world.

"I'm still amazed at how enthusiastic people can get about alcohol and robots," said Magnus Wurzer, one of the festival's organizers.